Apa sih rumah yang nyaman itu? Rumah nyaman berarti rumah harus mewadahi kebutuhan individu (pemilik dan pengguna rumah). Kebutuhan individu itu diantaranya adalah ruang yang mewadahi hobi dan juga aktivitas multitasking (berbeda namun dilakukan bersamaan).

Mewadahi Kebutuhan

Rumah nyaman juga berarti memenuhi kebutuhan rumah itu sendiri, seperti udara dan cahaya, yang membuat bahan bangunan tidak mudah rusak karena lembap. Kebutuhan sirkulasi udara diperlukan oleh bangunan itu sendiri, karena ada material yang harus berada dalam kondisi udara yang baik. Misalnya gipsum, yang tak tahan lembap, atau dinding yang seringkali terkena air, harus kering dengan aliran udara dan cahaya yang baik. Rumah pun sebaiknya mewadahi kebutuhan lingkungan. Kebutuhan lingkungan antara lain, aksesibilitas (tak menggangu lalu lintas), inspiratif (jadi solusi panca indera),& jadi tempat penghijauan.

Seimbang

Selain memenuhi kebutuhan penghuni dan lingkungannya, rumah pun harus seimbang. Keseimbangan yang dimaksud adalah adanya interaksi berkesinambungan antara beberapa hal yang memberi makna. Diantaranya adalah keseimbangan antara elemen kosong-isi. Keseimbangan antara elemen diam-bergerak. Keseimbangan antara bidang terang-gelap,dan keseimbangan penggunaan elemen artifisial dan alami di rumah.

- Keseimbangan kosong-isi, berarti membuat ruang dan bangunan memiliki bagian yang lebih padat pada posisi tertentu, dan kosong pada posisi lain. Posisi ini tergantung pada kebutuhan individu. Apakah ingin suasana yang lebih dinamis atau lebih statis. Ruang yang memiliki isi bisa menjadi ruang fungsional, penyimpanan barang, dan ruang yang kosong bisa jadi ruang pandang, dan ruang sirkulasi orang.

- Keseimbangan diam dan bergerak, berarti membuat komposisi ruang yang memainkan unsur bergerak di satu sisi , dan diam di sisi lain.Unsur bergerak itu bisa berupa pepohonan yang memiliki daun yang bisa bergerak saat tertiup angin, atau aliran air yang mengalir. Unsur bergerak bisa juga diwakili oleh pola-pola geometris yang dinamis. Unsur diam bisa dari furnitur yang ada di ruangan, atau elemen bangunan yang diposisikan berdampingan dengan elemen bergerak tadi.

- Keseimbangan selanjutnya adalah keseimbangan yang memainkan unsur terang dan gelap. Permainan terang dan gelap yang seimbang bisa menguatkan dimensi ruang. Dimensi ruang yang terlihat kuat bisa membuat ruangan jadi lebih berkarakter, penuh kesan, dan kontemplatif.

Nah, yang menarik, ternyata masing-masing jenis keseimbangan tadi mewakili unsur Yin (unsur statis atau dingin), dan Yang (unsur dinamis atau gairah) pada ruangan. Memainkan unsur-unsur keseimbangan pada ruangan, ternyata bisa membentuk karakter penghuni rumah, lho . Karakter bisa muncul dari perilaku yang berulang. Sedangkan perilaku sendiri muncul dari cara kita beraktivitas menanggapi sebuah persoalan. Persoalan yang bisa diselesaikan dengan baik membawa perilaku yang baik, dan begitu pula sebaiknya. Penataan dan desain ruangan, adalah sebuah solusi atas persoalan pewadahan kebutuhan.

Mewadahi Interaksi


Ini dia aspek lain yang membuat rumah jadi nyaman adalah kemampuan ruang mewadahi interaksi penghuninya. Interkatif: ruang-ruangnya bisa mewadahi aktivitas berkomunikasi dengan intensif. Interaktif juga berarti menjadikan elemen alam (cahaya, udara, air) terhubung dengan erat dengan panca indera.

Komunikasi tak hanya berbentuk verbal, tapi keempat indera yang lain bisa ikut “berkomunikasi”. Saat kelima indera berkomunikasi, didapatlah data yang nantinya bisa diolah otak. Dari data yang didapat, akan terstimulasi dalam gerak dan rasa. Kenyamanan di indera mempengaruhi kenyamanan rasa dan menjadi kesan yang diingat.

Kenyamanan di rumah bisa didapatkan tanpa mengubah banyak hal. Kembali introspeksi diri, ketahui kebutuhan diri & lingkungan, itu kuncinya.

Saat berkunjung ke Bengkulu, saya menyempatkan diri untuk mendatangi rumah pengasingan Presiden Soekarno di masa pra kemerdekaan. Tempat ini menjadi tujuan wisata kota Bengkulu, saya menemui banyak toko suvenir, warung makan, dan penginapan tak jauh dari rumah tersebut. Di kanan kiri rumah sedang ada pembangunan gedung, kata penjaga rumah, gedung di kiri rumah untuk ruang pertemuan, sementara di kanannya akan dibangun hotel.

Saya cukup membayar Rp 2.500 saja untuk bisa masuk ke dalam rumah. Rumah pengasingan ini sesungguhnya milik seorang saudagar Cina yang disewa oleh pemerintah Belanda untuk "membuang" Bung Karno di tahun 1938. Saya bisa melihat ornamen Cina pada lubang angin di atas pintu dan jendela. Rumah penuh buku yang pernah dibaca Bung Karno selama pengasingan. Saya membayangkan Bung Karno membaca buku-buku itu di beranda depan atau belakang yang adem. Halaman di sekitar rumah luas dan posisi rumah masuk ke dalam, jauh dari jalan raya.

Tapi Bung Karno di pengasingan tidak hanya diam membaca buku. Sebagai seorang arsitek, beliau merancang beberapa bangunan di Bengkulu. Ada 4 rumah tinggal, tapi hanya 2 yang terbangun: rumah kembar untuk refendaris residen dan rumah seorang demang. Bung Karno juga merenovasi masjid Jami' Bengkulu yang kini menjadi ikon kota Bengkulu.


Mbak Yuke Ardhiati pernah menulis dalam disertasinya yang hebat soal kearsitekan Bung Karno: pada tahun ketika diasingkan di Bengkulu merupakan periode awal intelektual Bung Karno sebagai insinyur-arsitek. Dalam disertasi itu pun terungkap bahwa Bung Karno mengidolakan Frank Lloyd Wright yang diturunkan oleh Prof. Schoemaker, guru arsitektur Bung Karno.

Bung Karno di Bengkulu ternyata juga membuat usaha mebel. Nama tokonya? Perusahaan Mebel Sukamerindu, sesuai dengan nama jalan tempat toko itu ada. Toko ini beliau bangun bersama dengan pengusaha Cina bernama Oei Tjeng Hien. Bung Karno bertindak sebagai desainer furnitur. Mereka pun pernah mengikuti pasar malam untuk memamerkan desain-desain mebel. Dan Bung Karno pernah membuatkan meja rias untuk Fatmawati, gadis asli Bengkulu yang dijumpai saat pengasingan dan kelak menjadi ibu negara.

Gambar di kiri ini adalah bangunan Masjid Jami' Bengkulu. Dalam suasana penuh keprihatinan, Bung Karno tetap bisa menghasilkan karya arsitektur. Beliau menjalani pengasingan di Bengkulu hingga 1942.


Mendesain tempat tinggal di atas tanah itu biasa. Mendesain tempat tinggal di atas air itu barulah luar biasa. Hehee..setidaknya itulah yang saya rasakan karena baru kali pertama studio kami mendesain yacht. Walaupun saya hanya tangan kedua dalam desain yacht ini, tapi saya “harus tau” bagaimana menciptakan interior kapal yang aman dan nyaman dihuni.

Kliennya adalah pasangan Bruce dan David. Awalnya mereka tinggal di sebuah apartemen di kawasan Central, Hong Kong. Berniat menjual apartemen mereka dan beralih tinggal di atas laut dan hidup nomaden. Kebayang nikmatnya pindah-pindah rumah setiap akhir minggu tanpa harus bongkar-pasang isi rumah, mau mancing tinggal duduk di pinggir teras belakang, makan malam di alam terbuka di tengah samudera, atau sekadar duduk malas-malasan di atas deck kapal.

Sayangnya kenikmatan itu hanya akan dirasakan oleh klien, sementara desainernya mesti putar otak bagaimana memenuhi permintaan klien untuk desain interior kapalnya. Badan kapal ini hasil rancangan dari “arsitek kapal” asal Thailand. Interior kapal terdiri dari 3 tingkat : tingkat paling atas roofdeck, bar, dan ruang kemudi, bagian tengah untuk dapur - ruang makan - dan ruang keluarga, sementara ruang paling bawah adalah kamar-kamar tidur dan toilet. Pertama kali mendapat proyek mendesain interior yacht, yang terpikir adalah “apa yang membedakan interior rumah dengan interior kapal?” Secara garis besar sih sama saja. Karena kapal ini akan dijadikan tempat tinggal, tentu kebutuhan rumah standar juga diterapkan di dalam kapal, seperti kamar tidur, ruang keluarga, kamar mandi, ruang makan, dapur, dan teras, kecuali garasi/ carport. Tambahan ruang antara lain ruang kemudi dan ruang mesin. Kapal ini memiliki 2 teras, 1 teras berada di bagian tengah kapal berhadapan langsung dengan ruang keluarga. Satu teras lagi berada di paling atas kapal dekat ruang kemudi. Teras terbuka ini dimanfaatkan sebagai tempat barbeque dan ruang duduk outdoor (sunbathing area).

Hal yang membedakan dengan interior rumah adalah pada detil-detil desainnya. Hal pertama yang harus diperhatikan dalam mendesain interior kapal adalah keamanan (safety). Karena kapal tidak pernah stabil alias selalu bergerak (walaupun kadang sangat minim untuk kapal-kapal besar) maka sudut-sudut runcing dalam disain dihindari. Terutama sudut meja dan tempat tidur dibuat melengkung. Di beberapa area terbuka bahkan dindingnya perlu dilapisi padded leather.
Desain meja atau kitchen counter juga perlu perhatian ekstra. Pinggiran meja diberi pembatas setinggi kurang lebih 1cm sepanjang sisinya untuk menghindari benda-benda diatasnya tergeser dan jatuh. Exhaust hood yang biasanya terletak di atas kompor, diganti dengan exhaust set yang menempel pada dinding bawah kompor (mirip di teppanyaki itu lho). Lemari penyimpanan dibuat semaksimal mungkin. Furnitur-furnitur kecil yang mudah tergeser dibuatkan permanen atau sistem built in. Misalnya, kursi bar (stools) yang tinggi dibuat permanen. Lemari untuk menyimpan gelas atau botol beling harus ada pegangan khusus di dalamnya agar gelas tidak saling bertumbuk.

Masih banyak hal-hal baru yang akan saya temui dan mesti dipelajari dalam proses mendesain interior yacht ini. There’s nothing more fun than learning new things, rite guys?

Keluarga besar saya tinggal di Surabaya. Beberapa kali saya mesti ke sana untuk menengok saudara yang sakit, terutama yang sudah berusia lanjut. Jadi, masuk-keluar bangunan rumah sakit di sana sudah lumrah bagi saya. Sakitnya tidak hanya hitungan hari, bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan, kadang harus berganti-ganti rumah sakit tergantung perkembangan si sakit.

Keluarga yang sedang sakit biasanya dirawat di Rumah Sakit Darmo dan Rumah Sakit Islam Jemur Sari. RS Darmo, karena dokter-dokternya dianggap lebih senior dan piawai, sedangkan RSI Jemur Sari dekat dengan lokasi tempat tinggal beberapa keluarga. Ada juga rumah sakit lainnya, tapi yang 2 saya sebut di atas lebih sering saya kunjungi sehingga meninggalkan beberapa kesan tertentu.

Saya senang dengan bangunan 2 rumah sakit itu, sebab keduanya berdesain yang nyaman untuk manusia tropis seperti saya. Ada taman-taman di sisi-sisi koridor rumah sakit lengkap dengan pohon dan perdu-perduan. Kami para penunggu si sakit bisa duduk-duduk di kursi atau dinding pembatas rendah di pinggir-pinggir taman. Jangan salah, di rumah sakit bukan cuma pasien yang menderita, keluarganya juga sama. Mereka pasti lelah dan tak jarang stres karena kesulitan biaya. Juga ahli medis dan jajarannya yang bekerja siang malam. Bagi saya, adanya taman membuat suasana lebih ceria.

Oya, saya juga senang dengan teras-terasnya yang lebar (karena untuk kebutuhan sirkulasi di rumah sakit) dan koridornya berada di sisi luar bangunan, bersebelahan dengan taman-taman itu. Selasar-selasar panjang yang terbuka membuat udara dapat berganti setiap saat, dan bagi saya ini menyenangkan. Bedakan bila rumah sakit bersetting gedung tertutup yang kiri-kanannya tembok yang tertutup. Saya membayangkan si sakit barangkali sedikit terhibur dengan suasana begini. Syukur-syukur kalau bisa sekalian menyembuhkan penyakitnya.

Mungkin karena keterbatasan lahan, rumah sakit sulit untuk menjadi lebih manusiawi. RS Darmo memang bangunan Belanda yang berlahan luas sehingga bisa menciptakan lansekap di sana-sini. Tapi, RSI yang baru terbangun sekitar awal 2000-an dan lahannya terbatas juga tetap bisa memiliki banyak taman. Memang ruang rawat inapnya mungkin tidak seberapa, mungkin arsitek atau ownernya lebih mementingkan suasana yang nyaman bagi si sakit dan orang yang menunggu ketimbang sisi bisnis. Paradigma mendesain rumah sakit barangkali perlu mendapat pencerahan. Semoga pada desain-desain yang baru tak ada lagi rumah sakit yang membuat orang-orang di dalamnya semakin sakit.

Photobucket



Ketakutan saya menjadi, ketika pemandian Cihampelas kini rata dengan tanah. Saya selalu percaya, bahwa sebuah perbuatan yang menghasilkan karya, baik itu karya merusak maupun karya yang membangun, akan menjadi trigger untuk perbuatan selanjutnya. Simpelnya, mirip dengan karma.

Bukan karena masalah spiritualitas. Ini adalah logis. ketika kita berkarya, kita menemukan level pemikiran utuh pada karya tersebut. Apalagi jika karya itu menjadi sebuah langkah besar hidup kita. Kengo Kuma pun berpaham bahwa karya nya adalah trigger untuk lingkungan sekitarnya. kita, adalah lingkungan kita, disadari ataupun tidak.

Pemandian Cihampelas memang bermakna sejarah. Ini bukan cerita romantis tentang kehadirannya, tetapi lebih kepada keterkaitan terhadap sebuah sejarah besar kota Bandung yang pernah menjadi tolok ukur tata kota modern asia pada jamannya. Pemandian Cihampelas ini, walaupun memang tak tampak signifikan mempengaruhi ruang kota setelah tertutup oleh bangunan kampus besar di depannya, tetaplah berpengaruh pada pembentukan sejarah tata kota Bandung. Ia telah rata, rata dengan ambisi besar menciptakan sebuah wadah baru untuk stakeholder baru kota Bandung, para pendatang dan pemodal.

Sebuah rencana besar, dengan energi besar, kini tengah menggerus sejarah Bandung. Trigger berupa penghancuran pemandian Cihampelas kini benar-benar menyebar ke bangunan sejarah lainnya, Pemandian Centrum, dan bahkan beberapa bangunan tua di braga. Bangunan-bangunan yang terakhir disebut, masih sangat mempengaruhi shape ruang kota khas Parisj van Java. Saya khawatir, ini bukan masalah kerusakan bangunan yang menakuti kita, tapi rusaknya ruang-ruang kota yang berawal dari rusaknya shape ruang kota itu. Akhirnya, kerusakan ruang kota hanya akan merusak spora-spora aktivitas yang berusaha mencari makna di ruang kota itu.

Sebuah gerakan elegan selayaknya dihimpun. Bukan untuk melawan ambisi, tapi mengolah ambisi. Ambisi untuk mewadahi ego-ego stakeholder bandung yang ingin kenyamanan. Ambisi inilah yang bisa diolah dengan cara cerdas: Menggiring Stakeholder Bandung untuk Menghargai Sejarah Bandung!

Foto Cihampelas: by Agah Nugraha Muharam


Tak ada hal yang lebih menyedihkan daripada menyaksikan bangunan yang terabaikan. Karya arsitektur pasti melalui satu proses panjang yang melibatkan pikiran, hati, lingkungan, dan segala hal. Lantas mengapa orang-orang mengabaikannya?

Saya berulang kali menanyakan hal tersebut pada orang di sekeliling saya ketika melihat pasar induk Sei Jodoh di Batam. Bangunan pasar itu desainnya sungguh luar biasa. Saya yakin arsiteknya telah mencurahkan segala jiwa dan pikirannya saat menyelesaikan desain pasar itu. Eksplorasi materialnya maksimal, bentuk massa yang unik, struktur bentang lebarnya tidak main-main, pastilah menghabiskan banyak biaya. Dibangun 2004, kini pasar itu mati, kondisinya rusak, tidak ada aktivitas jual beli-hanya ada sedikit orang yang menumpang hidup di situ. Bangunan yang tidak terawat itu akhirnya seperti situs bersejarah dengan kondisi rusak sana sini. 

Apa yang terjadi? "Pengelola pasar tidak mampu membayar biaya maintenance bangunan itu," kata Joko ...., Dirut PD Pasar Jaya, dalam satu seminar di Batam. Begitu banyak detail bangunan yang butuh perawatan ekstra, material lantai dari batu ternyata sulit dibersihkan. "Nggak bisa cepat dipel," jelas Joko. Desain memang menjadi hal utama dalam pembuatan bangunan umum seperti pasar. Kita paham bagaimana suasana pasar yang sibuk dan penuh manusia dari berbagai latar belakang. Banyak hal wajib yang harus dipenuhi seorang arsitek, seperti sirkulasi, kemudahan perawatan, dan pembagian ruang yang optimal. Bila itu sudah terpenuhi, arsitek bisa bebas mengembangkan aspek lain.

Edy, seorang rekan yang ikut meninjau lokasi bersama saya berpendapat: "Ini sih terlalu keren untuk bangunan pasar, nggak sesuai dengan karakter manusianya." Saya sih kurang setuju, memangnya pasar harus becek dan kotor? Apa salahnya punya pasar keren (atau pacar keren? Haha..). Tapi Candi, teman saya yang lama bermukim di Batam punya pendapat lain: "Kalian tau nggak, di Batam itu aneh. setiap ada bangunan baru, bangunan yang sebelumnya pasti ditinggalkan terus mati, ya pasar itu salah satunya." Wah apa nggak rugi ya, pengusaha propertinya? Menurut Candi, mati atau tidak itu bukan urusan mereka, yang penting duit bank sudah berhasil keluar. Entah bagaimana logikanya, saya kurang jelas.

Ya, entah apa alasannya, yang jelas bangunan pasar induk Sei Jodoh sudah rusak, seperti sisa-sisa kejayaan kota di masa lalu namun tanpa cerita sejarah yang panjang. Menyedihkan..  

Ketika bertemu klien, saya dan rekan saya seperti biasa meminta si klien menceritakan permintaan atau keinginannya. Ia ingin membangun rumah keduanya di tanah yang ukurannya 150m2. Kemudian saya bertanya tentang apa yang ia inginkan pada rumah tersebut, sebagai prioritas pertamanya. Kami ingin lebih dekat juga dengan cara ngobrol-ngobrol santai, sore hari di teras belakang yang asri.

"Saya mau di ruang bawah itu hanya kamar utama saja, yang cukup luas. Dengan kamar mandi ya.., lalu ada ruang shalat, kamar tamu juga ok, kalau masih cukup." jelasnya. Kemudian ia menambahkan, semua harus easy maintenance. Ia tak mau menghabiskan waktu untuk bersih-bersih rumah. Dan berlanjut dengan ruang-ruang di atas. Sampai di sini saya belum ketemu keinginannya yang paling mendasar, semua masih umum saja. O ya kecuali kamar utama yang sedemikian besar dan pintunya juga besar pula. Saya pun bertanya soal ini, seberapa besar yang diinginkan?

"Cukup besar, 9 x 10 meter, gimana?," tanyanya. Ya tidak apa-apa sih, tentu saja. Tapi buat apa ya, mengingat ruang lain belum kebagian tempat. Dia juga ingin ada ruang tamu atau keluarga yang lapang di lantai bawah. "Begini, saya dan suami sudah tua. Kalau kami meninggal, saya tidak ingin orang lain susah dengan ruang-ruang yang sempit," katanya. Hmm.. ya betul juga, tapi hmm..saya yakin mereka belumlah terlalu tua. "Demikian juga pintu-pintu di ruang bawah, jangan ada yang sulit dilewati, terutama ketika mengangkat keranda jenazah." imbuhnya. Dia mencontohkan rumah lamanya dengan pintu masuk yang berbelok-belok, "Coba deh kalo kayak gini, katanya fengshui-nya bagus, tapi gak mungkin keranda bisa lewat pintu depan, terus mau lewat mana?" Saya dan rekan jadi agak ngeri membayangkannya. Pemikiran yang jauh dan bagus, tapi hmm..horor gitulah.

Dan klien kami pun menangkap ekspresi keterkejutan itu, ia menimpali, "Hehe.. tenang saja, kita semua punya tujuan ke sana kan?" Saya tersenyum saja mendengarnya. Dan diskusi pun berlanjut masih seputar akses dan ruang-ruang jika si klien meninggal. Duh.. kenapa yang kepikiran di saya, konsepnya jadi spooky begini yah.. seperti, 'nanti malaikat-malaikat perlu lewat pintu khususkah?' Setelah beberapa lama, akhirnya terlontar juga kata kunci tentang style rumah yang dia mau. Lega juga rasanya, paling tidak, jadinya nanti rumah kecil yang manis, bukan suasana kematian seperti yang diceritakan di awal.

Tidak ada yang aneh karena setiap desain selalu memperhatikan kebutuhan saat ini dan di masa depan. Kalau ada desain bangunan ramah lingkungan, barangkali segera akan menjadi trend pula desain ramah kematian.

saya kebetulan berada di dekat kantor walikota jakarta utara ketika iring-iringan mobil hias membikin macet jalan. ooh..pemkot jakarta utara baru saja mendapatkan piala Adipura dari Presiden SBY. saya masuk ke halaman walikota dan ikut melihat prosesi iring-iringan. di dalam, para penari dan pemain musik tradisional sedang gladi bersih. "iring-iringan sudah dekat, ayo kita siap-siap," teriak MC di teras kantor walikota. seseorang berbisik kepada saya, pak Walikota ada dalam rombongan dari balai kota. lalu, para senimann tradisional ini dipersiapkan untuk menyambut kedatangan piala yang bergengsi itu.

ketika rombongan sudah sampai di gerbang, mereka dicegat dulu oleh para seniman lenong. mereka bercakap-cakap dengan gaya betawi yang khas seputar jakarta utara dan piala Adipura. sesekali diselingi oleh celetukan-celetukan khas yang kocak dan merakyat (bukan banyolan tak bermutu ala anggota parlemen kita). tak lama iring-iringan hampir sampai di depan teras Walikota. lagi-lagi perjalanan mereka terhenti sejenak untuk melihat prosesi penyambutan oleh para seniman. ada tari-tarian, reog ponorogo, bahkan barongsai. lho, tapi apakah semua itu kesenian khas jakarta?

"seperti itulah pesisir Jakarta," kata Kasudin Kebudayaan Jakarta Utara. "Kita ini terbentuk dari beragam kebudayaan yang berbeda-beda, semua ada di sini, hidup berdampingan dan saling menghormati," lanjutnya. Setuju, di pesisir utara ini kota jakarta bermula. sejak abad 16 para pendatang saling mengadu nasib dan proses itu masih berlangsung hingga sekarang. "Coba sebut suku apa yang tidak ada di jakarta?" tanyanya. Hmm.. orang timbuktu ada nggak ya :) Dan keberagaman itu juga tampak pada tarian Lenggang Nyai, yang para penarinya menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah. Ada Bugis, Bali, Jawa, Padang, dan lain-lain.

Satu yang sangat menarik, saya melihat tarian yang saya belum pernah lihat. Namanya tari None Toegoe, ini lebih unik lagi karena gerakannya kayak tari-tarian di Eropa. Ya memang di Tugu ada komunitas yang konon masih keturunan Portugis, jadi budaya dan wajahnya agak berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. anyway, selamat untuk jakarta utara yang mendapatkan piala Adipura. mudah-mudahan bukan tidak seperti komentar orang di koran: "kok bisa ya, bukannya polusinya tinggi, sungainya kotor, langganan banjir, dan sampah menggunung di pinggir-pinggir kota?" hmm..


Beberapa hari yang lalu saya sempat membaca sebuah artikel dalam Kolom Kompas yang mengulas tentang “The Architecting, Proses Berpikir yang Menyimpang”. Menurut si penulis, "The Architecting" dalam dunia arsitektur adalah kemampuan berkreasi dan mengembangkan suatu ide -ide segar untuk menciptakan sesuatu yang bahkan "mustahil" untuk diwujudkan, dan hambatan -hambatan yang muncul, justru akan membuat kita semakin andal karena akan menemukan solusi yang selama ini selalu tidak pernah dijumpai.
Jujur saja, saya belum pernah mendengar kata The Architecting. Yang saya tahu, sebuah kata kerja yang diberi akhiran –ing dalam bahasa Inggris artinya menjadi kata kerja tersebut sedang dilakukan atau sedang berlangsung. Tapi jika kata benda atau sebuah jabatan/posisi yang diberi imbuhan –ing dalam bahasa Inggris, setahu saya akan menjadi sebuah sebuah kegiatan yang berhubungan dengan sifat benda itu atau jabatan/posisi yang dimaksud. Saya tak ada niatan mengajar bahasa Inggris, hanya sekadar menjabarkan betapa saya baru tahu ada kata Architecting. Mungkin saya yang gak gaul hehe..
Saya tergelitik dengan tulisan di Kompas ini. Mengapa? Karena pembahasannya yang menurut saya menarik mengenai proses berpikir seorang arsitek. Jaman kuliah dulu sering dengar tentang teori Black Box. Dari beberapa referensi yang saya baca, secara garis besar konsep berpikirnya kurang lebih sama dengan yang dimaksud oleh si penulis The Architecting ini. Dalam suatu kasus, jika kita berpikir di dalam black box, kita tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi. Secara harafiah, kalo kita masuk kedalam sebuah kotak hitam nan gelap tentu kita hanya bisa meraba, bukan? Tidak yakin, ragu-ragu, tidak jelas, langkah yang tersendat-sendat, segala ketidakmungkinan terjadi di dalam kotak hitam itu. Namun, jika kita berpikir diluar black box dan ingin melihat apa yang ada di dalam atau membayangkan keadaan di dalam black box tadi, all we have to do is TO TRY! Menciptakan sesuatu, berkreasi, terus menggali ide-ide, dan terus mencoba sesuatu yang berbeda untuk melewati kotak hitam itu. Sehingga dari hasil akhir yang kita dapat, kita menerima sebuah pengalaman dan mulai menemukan solusi-solusi atas hambatan-hambatan (seperti yang disebutkan oleh penulis The Architecting). Yang lebih penting lagi kita sudah bisa membaca situasi apa yang terjadi di dalam kotak hitam itu.
Realitanya, sebagian arsitek dalam proses penciptaannya menemukan banyak hal yang menghambat kreasinya. Dan hambatan-hambatan itu terkadang juga merupakan faktor yang tak bisa diabaikan, harus dipertimbangkan dan merupakan bagian dari karakter hasil ciptaan sang arsitek. Sebut saja faktor iklim, sosial budaya, kepercayaan, sumber daya alam dan manusia, kondisi finansial, maupun peraturan setempat. Benturan-benturan yang ada kadang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ego seorang arsitek harus mau diturunkan beberapa level untuk mengimbangi keadaan tersebut. Di Cina, beberapa klien saya sangat fanatik pada feng shui. Kemana-mana ia selalu membawa meteran feng shui. Meteran ini berbeda dengan meteran biasa karena ada angka-angka yang diberi tanda merah yang berarti baik. Semua ukuran yang saya buat haruslah sesuai dengan fengshui. Semua angka berakhiran 4 dihindari. Walhasil, ada bagian-bagian dalam rumah yang tidak proposional dan tidak selaras satu dengan lainnya. Lagi-lagi ego saya harus diredam untuk menyelami keinginan klien.
Saya ingat semasa kuliah, saat saya ingin sok-sokan nyleneh membuat sebuah bangunan, dosen pembimbing selalu melontarkan pertanyaan mengenai struktur dan keselarasan dengan lingkungan sekitar. Lagi-lagi saya harus mengerem emosi jiwa muda yang selalu ingin membuat bangunan yang ‘mustahil’. Berpikir kembali, merombak sana-sini yang pada akhirnya bangunan saya menjadi sangat biasa (karena cari amannya saja). Dan kebetulan, mencari aman dalam mendesain, nampaknya selalu didoktrin oleh salah seorang dosen saya. Mencari desain yang aman dan yang umum disukai, memang menjadi favorit bagi sebagian arsitek yang tak mau repot, tak mau susah, dan tak mau menggali lebih dalam. Pola berpikir selalu’aman’ akan menghambat proses kreatifitas.
Seandainya saja arsitek memiliki kebebasan berkereasi tanpa batas seperti yang dialami arsitek-arsitek Jepang. Masing-masing disiplin ilmu melakukan tugasnya masing-masing untuk men-support kinerja arsitek. Sehingga sang arsitek memiliki otorita penuh (dan bebas) dalam berkreasi. *A*





Sadar atau tidak, pesan yang dikandung dalam sebuah desain seringkali terabaikan. Pesan itu seringkali terbungkus dalam olahan detail desain-desain bangunan yang sering kita ikuti.



Dunia desain adalah dunia penciptaan. Penciptaan selalu terikat dengan runtutan proses dan keterkaitan waktu. Sebuah desain bisa dinilai dari runtunan prosesnya, begitu juga dengan waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Keinginan dan kepentingan selalu meliputi proses desain.

Proses perwujudan sebuah desain bisa jadi kompleks dan bisa juga sangat sederhana. Namun bisa saja di dalam kesederhanaan itu, kita justru menemukan kedalaman makna, dan sebuah rangkaian cerita yang membuat mata berbinar. Seperti halnya olahan desain Taj Mahal, yang mensyiratkan kekuatan cinta dari kekuatan detail dan proporsi bangunannya. Latar belakang pembuatan Taj mahal adalah karena cinta, yaitu sebuah monumen cinta dari sang raja kepada permaisurinya yang wafat terlebih dahulu.



Begitupula dengan Candi Borobudur. Siapa sangka, bangunan semegah Borobudur adalah wujud cinta dari Rakai Panangkaran yang dikenal sebagai sosok spiritualis. Sosok ini begitu tanggap terhadap kehidupan manusia yang saat itu begitu kacau balau. Maka untuk itu diperlukan sebuah bangunan pemersatu berupa candi yang menyimbolkan ajaran jalan kehidupan yang baik. Ajaran tersebut dalam bentuk batu berundak (Candi) yang berisi ajaran hidup Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. itulah karya arsitektur masa lalu yang meninggalkan seribu cerita dan beribu sudut yang memukau.

Kemegahan tak harus terlihat dari sosok bangunan yang ada. Kemegahan makna dari bangunan revitalisasi Kali Code karya Romomangun, memberikan sebuah ruang apresiasi pada detail-detail kehidupan yang sebelumnya termarginalkan. Pemberian warna-warna menjadikan kawasan Kali Code menjadi sebuah rangkaian ornamen kehidupan. Semua perhatian dan harapan itulah yang membuat sebuah desain terasa penuh cinta.


Terkadang kemudahan itu bisa sengaja ataupun tak sengaja disimpan oleh sang desainer dalam sebuah benang merah konsep-konsep desainnya yang lain. Saat itulah desainer membuat pesannya untuk orang lain, agar cintanya selalu terlihat, dan berbekas, jika bisa sepanjang sejarah.

Bangunan bukan hanya wadah, tapi bisa juga menjadi sebuah proses yang menceritakan keterikatan desainer dengan waktu dan rasa. Rasa cinta yang terolah dalam sebuah karya rumit, atau rapi, yang seolah tak mengenal waktu saat menciptakannya. Rasa senang, yang terolah dalam sebuah elemen yang terkomposisikan secara kontras dan menimbulkan pencerahan, atau rasa berontak yang ditunjukkan dalam ketidakseimbangan komposisi.

Saat desainer menyampaikan pesan, maka pesan itu tak hanya terasa di telinga, namun terlihat dimata, dan terasa di hati.


Sumber:
- www.altiusdirectory.com.jpg
- www.dezeen.com.jpg
- www.dreamstime.com.jpg


Tiap kali sehabis membaca bukunya Dan Brown, saya kembali terkagum-kagum dengan "bisa-bisanya" penulis ini membawa saya tenggelam dalam tulisannya. Terutama, penuturannya tentang bangunan-bangunan tua yang dibumbui gosip-gosip konspirasi. Obyek-obyek arsitektur bisa jadi fiksi yang asyik begini ya, ternyata… hehehe… dulu sewaktu kuliah saya paling hobi baca tentang sejarah arsitektur, soalnya.

Hmm.. di antara banyak bangunan yang dibicarakan dalam buku barunya, The Lost Symbol, saya tertarik dengan sebuah Ruangan Terindah di Dunia, yaitu ruang baca utama Congress Library di Washington DC. Menurut Brown dalam novelnya itu, ruang baca di perpustakaan ini benar-benar memanjakan seluruh indera. Nah, siapa coba, yang nggak kepingin lihat?

Makanya buru-buru saya googling, congress library, cuma untuk melihat seperti apa sih ruang terindah itu? Dari gambar-gambar yang saya dapatkan, kelihatannya memang benar-benar bagus (mudah-mudahan Brown nggak lebay, ya :D). Dijelaskan, ruang baca utama itu diterangi dari 8 arah berbeda sehingga tidak ada bayangan/ruang gelap yang terjadi. Dia menambahkan keterangan lagi: hal itu pulalah yang membuat ruang ini seakan berkilauan. Ck..ck..ck..

Skala ruangnya yang besar banget, membuat kita merasa 'tak berarti'. Ada 8 kolom marmer cokelat dan merah yang juga berukuran "giant" menopang kubah. Kubah besarnya dilengkapi dengan kaca-kaca hias yang ikut memasukkan cahaya. Di bawah, meja-meja panjang tersusun persegi delapan dengan permukaan yang mengilap. Bukan cuma tampilannya yang cantik, tapi juga komplit, konon setiap hari koleksinya bertambah 10.000 barang. Buku-buku dan koleksi lainnya disimpan dalam rak yang, kalau digabungkan, panjangnya bisa mencapai 800 km. Rak-rak itu adanya di dalam balkon-balkon bertingkat 3 dengan detail cantik yang mengelilingi ruang.

Jadi, seperti itulah ruang terindah di dunia yang "menakjubkan" versi Dan Brown. Kalau ruang terindah di Indonesia, kira-kira ruang apa, ya?

Hebohnya dunia politik nasional saat ini mau tak mau membuat saya ikut-ikutan terbawa emosi. Barangkali memang karena peran media yang sering berlebihan dalam memberitakan sesuatu jadi saya pun mudah terpancing. Tapi, di luar itu semua saya jadi teringat seorang arsitek terkenal yang pernah tersandung masalah politik. Jorn Utzon, perancang Sydney Opera House yang fenomenal itu ternyata belum pernah mengunjungi bangunan tersebut karena masalah politik di masa lalu.


Jorn Utzon
Bermula dari kemenangannya dalam kompetisi desain gedung opera di Sydney, Jorn Utzon tidak serta-merta mendapat kemudahan. Desain struktur yang “ajaib” di masa itu cukup menyulitkan pelaksana konstruksi dalam merealisasikannya. Sampai tahun 1961, belum ada solusi permasalahan konstruksi, hingga Utzon sendiri turun tangan memikirkan detail konstruksinya. Ia pun pindah ke Australia tahun 1962.

Hambatan kedua datang dari pihak pemerintah Australia. Para pejabat negara di New South Wales (1965) banyak mengkritik proyek gedung opera Sydney. Ia pun terlibat konflik dengan salah satu pejabat setempat bernama David Hughes. Tanpa jadwal pembangunan yang jelas akibat desainnya tidak masuk akal, Utzon dianggap sebagai orang asing yang menghabis-habiskan uang negara. Ketegangan memuncak ketika pemerintah menghentikan pendanaan terhadap proyek gedung opera Sydney. Saat itu, Utzon tak lagi bisa membayar stafnya dan diminta untuk mengundurkan diri.

Utzon meninggalkan Australia pada tahun 1966 akibat tekanan politik dan pers Australia. Proyek gedung opera Sydney tetap dikerjakan oleh pihak lain. Ketika Utzon berhenti, pengerjaan struktur atap sudah hampir rampung. Secara keseluruhan, gedung ini akhirnya selesai dan diresmikan Agustus 1973. Sayangnya, Utzon tidak diikut sertakan saat peresmian gedung, bahkan namanya pun tidak disebut-sebut. Sungguh ironis..

Penghargaan di Usia Senja
Penghargaan demi penghargaan untuk Utzon baru datang berpuluh tahun kemudian. Maret 2003, Utzon mendapatkan Honorary Doctorate dari University of Sydney. Dalam rangka merenovasi gedung, Utzon kini kembali dilibatkan. Juga di tahun 2003, ia mendapatkan penghargaan Pritzker Prize sebagai peraih penghargaan tertinggi. Bahkan di tahun 2007 lalu, Sydney Opera House ditetapkan sebagai World Heritage Site.

Namun, apa daya. Berulang kali Utzon diundang ke Australia tapi ia sudah terlalu tua dan sakit untuk bepergian. Utzon mengutus anaknya, Jan Utzon untuk menghadiri acara-acara kehormatan tersebut. Dalam peresmian gedung opera setelah renovasi, Jan Utzon berkata,”Tanpa ayah saya datang ke sini, sebagai perancangnya, ia tinggal memejamkan mata untuk bisa merasakan gedung opera ini.”

Utzon meninggal dunia di Copenhagen, 29 November 2008 karena serangan jantung . Bulan Maret 2009 lalu, peringatan atas meninggalnya Jorn Utzon berlangsung dalam sebuah konser rekonsiliasi di Concert Hall, Sydney Opera House. Yah begitulah, dulu dihujat-hujat, sekarang malah dipuja. Tidak apalah, daripada dipuja dahulu, tapi dihujat kemudian.

Bukan bermaksud promosi, tapi beberapa waktu lalu saya merasa happy karena disodori majalah gratis alias free magazine yang mengulas dunia arsitektur Indonesia. Lebih happy lagi karena yang menyodori ternyata teman sendiri!! Wah, sekian lama tidak ketemu tapi ternyata teman saya itu tetap konsisten dengan cita-citanya untuk membuat majalah arsitektur. Dulu, saya pernah membantu dia merampungkan artikel-artikel untuk majalah di asosiasi. Tapi umur majalahnya nggak lama, "abis terlalu banyak intrik-intrik," teman saya menjelaskan.

Kini dia secara independen membuat majalah itu (hebat ya... karena tentu tidaklah mudah dan pasti tidak murah). Dengan mengandalkan kanalan dan pengalaman, jadilah majalah yang saya pegang itu. Namanya Architect+, umurnya masih terbilang baru, sekarang masuk ke edisi ke 3. Isinya menarik dan berguna, karena agak susah kan mencari artikel arsitektur di media-media umum. Walaupun akan lebih menarik lagi kalau artikelnya lebih diolah. Waduh, rasanya kepingin gabung di bagian redaksinya. "Boleh, boleh,"kata teman saya, "Ayo nulis dong!" lanjutnya. Nah.. giliran saya yang bingung kalau ditodong suruh bikin artikel, numpuk kerjaan lagi! Saya nggak berani janji.

Bagian majalah yang paling saya suka adalah profil-profil arsitek daerah. ada juga desain baru, kritik, travel. Kalau boleh saya usul, saya kepingin menambahkan rubrik yang berisi berita arsitektur (lokal dan internasional), lalu ada juga rubrik yang mengulas gaya hidup arsitek->rata-rata mereka unik dan nyentrik kan... ada juga yang high class..atau fanatik dengan tokoh tertentu. Kayaknya seru kalau dibahas-bahas. Doa saya cuma satu, mudah-mudahan majalah Architect+ tetap exist! Soalnya menurut teman saya, mencari iklan saat ini amat sulit. Yang namanya majalah (terutama free magazine), hidupnya dari mana lagi kalau bukan dari iklan.

Jadi, pembaca sekalian sudah pernah tahu majalah Architect+ atau belum? (Oh ya, gambar cover majalahnya akan segera menyusul).

Sebetulnya saya menantikan calon pemimpin kita meneriakkan kalimat tersebut ketika berkampanye di hadapan masyarakat. Terutama mereka yang menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan. Pembangunan mall menurut saya mesti dibatasi mengingat tempat yang menyenangkan ini membuat rakyat makin konsumtif, sementara itu di tempat lain, mall dikatakan telah mematikan pedagang kecil di sekitarnya. Memang asyik kok jalan-jalan ke mall, tapi dengan kreativitas, pasti banyak tempat menyenangkan lain yang nggak bikin kita jadi konsumtif.

Saya pernah dapat informasi bahwa ada seorang bupati di Yogyakarta yang melarang pembangunan mall di kabupaten yang dipimpinnya. Begini salah satu cuplikannya: "Mini market yang terlalu banyak dan letaknya berdekatan dengan pasar-pasar tradisional dikuatirkan bisa mengganggu perkembangan para pedagang pasar tradisional, pengusaha kecil dan toko-toko kecil di sekitarnya. Selama ini pak Bupati sudah mengeluarkan larangan pendirian mall atau supermaket, dengan alasan untuk melindungi pedagang pasar tradisional. Untuk mini market atau swalayan dan sejenisnya hanya ditunda sementara, sambil menunggu keluarnya peraturan baru". (http://www.bantulkab.go.id/web.php?menu=berita&baca=323)

Yang berbicara itu adalah salah seorang pejabat di kabupaten setempat. Wah, senang juga mendengar ada pejabat pemerintahan yang berani menolak mall. Tapi, ngomong-ngomong, efektif nggak ya cara seperti itu? Ternyata tidak sesederhana itu, karena menurut beberapa komentar, banyak penduduk yang memang dasarnya suka dengan suasana mall akhirnya jalan-jalannya ke mall di kota 'sebelah'. Jadi uangnya malah mengalir ke daerah lain, akibatnya roda perekonomian di kabupaten itu kurang giat. Seseorang juga berpendapat, adanya mall itu justru menandakan kemajuan daerah tersebut, artinya ada investor yang menangkap potensi di situ.

Kabarnya, mall bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitarnya. Tapi ini buru-buru ditepis oleh salah satu warga, menurutnya, penduduk sekitar tetap miskin. Apalagi pedagang kecil, semakin tidak laku jualannya. Susah juga ya, kalau saya, mall itu baru 'berguna' kalau terintegrasi dengan fungsi-fungsi bangunan yang lain (dgn kantor, tempat tinggal, dan jenis ruang lain yang kita butuhkan). Jadi, kita tidak usah berpindah tempat terlalu jauh untuk memenuhi kebutuhan. Soalnya saya paling sebel liat kemacetan akibat mall-mall di kota. Setiap ada mall baru yang pertama kali terpikir oleh saya: "Wah, bakal macet nih daerah sini."

Apa yang terjadi pada kesempurnaan...
Bila kemapanan membuat kita terlupa
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila ikatan rasa indah hanya menjadi penjara
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila hanya membuat yang tak sempurna jadi sengsara...

:)..
Saya membuat kalimat-kalimat tersebut.. saat melihat keajaiban bentuk dan detail yang disodorkan kota tua jakarta.
Perubahan gradual pada bentuk kota lama, dan ruang-ruang kota yang menemaninya, selalu membuat cerita. Bahkan, cerita tersebut bisa dibungkus dalam rangkaian-rangkaian puisi yang indah, atau bisa juga menjadi rangkaian puisi bernada apatis.





Indah,…

saat kita membayangkan pluralitas kepentingan yang ada didalamnya. Melihat berbagai macam laku individu, yang memanfaatkan ruang kota sebagai latar cerita. Latar cerita hidup yang berakhir di album-album kenangan. Bagi saya indah, karena menjadikan ruang kota sebagai latar panggung maya kehidupan. Panggung yang menjadikan individu terikat dengan histori kota, walau hanya dalam konteks ruang kaku dalam frame album kenangan. Semakin banyak orang yang menginginkan latar itu, semakin orang sadar akan pentingnya sebuah background dengan identitas yang kuat, hingga mengingatkan kita pada ruang waktu.


Apatis,…

Saya terdiam bila ditanya, kemanakah akan dibawa makna Kota Tua ini?
Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak bisa meramal. Saya hanya bisa terdiam, seraya membayangkan, kota tua semakin lama semakin lapuk. Karena setiap materi memiliki umurnya. Akankah kota tua akan menjadi diam dan lapuk? Apakah yang memikirkan kota tua juga akan ikut lapuk? Apakah kritisi terhadap pemaknaan kota tua akan menjadi mimpi-mimpi yang lapuk?
Waktu adalah taruhan dari kota tua. Saya takut, revitalisasi hanya memberikan make-up yang berumur jauh lebih pendek dibandingkan pertaruhan atas waktu tersebut, yang terus berlangsung tiap detik.

Memaknai tiap detik, bergerak kala teringat…


Toilet umum bukan sekadar sebuah ruang “belakang” yang aspek desainnya bisa kita abaikan begitu saja. Karena nyatanya, tak sedikit orang memanfaatkan toilet sebagai ruang “pelarian”, karena itulah mungkin toilet sering dituliskan dengan sebutan Restroom-ruang istirahat. Tentu istirahat bukan dalam arti tidur, tapi istirahat dari situasi yang membuat kita tidak rileks. Misalnya, dalam situasi kantor yang menegangkan, kita butuh ruang privat untuk sejenak menenangkan diri. Ke toiletlah kita pergi. Atau dalam situasi pertemuan membosankan di sebuah restoran. Ke toiletlah kita berlabuh. Jadi, tak melulu “urusan belakang” yang ditampung oleh ruang servis ini. Tapi juga urusan mempercantik diri, urusan menenangkan diri, bahkan urusan bergosip seperti dalam sitkom Sex And the City dan Ally McBeal. Karena itulah, toilet bisa menjadi tantangan tersendiri saat mendesainnya agar dapat mengakomodasi segala urusan-urusan di atas.

Desain sebuah toilet bisa menjadi sangat menarik jika si penciptanya memiliki daya kreasi tinggi yang integral dengan kemampuan strukturalnya. Hal yang paling dasar adalah bagaimana menciptakan toilet itu menarik, bersih,dan mudah perawatan. Sebuah toilet di Pacific Place Hong Kong bisa jadi referensi desain yang cocok. Bentuk denahnya yang melengkung menjadi satu tantangan khusus bagi sang desainer Thomas Heatherwick. Seorang arsitek Inggris yang super kreatif itu-menurut The Times newspaper-mendapatkan amanah untuk memotori rencana kontemporerisasi mal tersebut, dan toilet inilah salah satu hasilnya.

Denah ruang servis ini berbentuk tapal kuda. Bentuk U dibelah 2 menjadi toilet wanita dan pria. Pada salah satu ujung yang menghadap ke lorong menuju mal, terdapat ruang berbentuk silinder yang berfungsi sebagai sekat penghalang atau pintu abstrak bagi kedua toilet tersebut. Ruang silinder ini dipakai sebagai nursery room. Yang menarik dari desain toilet ini adalah pada repetisi bentuk lengkung sistematis atau sederhananya- bergelombang.

Konsep desain kontemporer dengan pendekatan organik menciptakan sebuah toilet yang elegan, natural, modern, bersih, dan tak membosankan. Pemilihan material utamanya cukup jeli. Hanya terdiri dari satu jenis kayu, lantai beton dengan penyelesaian waterproofing krem, dan dinding tembok serbaputih. Bentuk gelombang terbuat dari lapisan veneer kayu berurat horisontal dengan susunan rangka-rangka didalamnya yang membentuk lengkungan. Material kayu ini dibuat sedemikian rupa sehingga menerus tanpa terlihat sambungan kayunya. Nyleneh tapi unik. Material kayu dan warna coklatnya menciptakan kesan yang hangat, natural, dan elegan dalam desain toilet ini.

Kita tengok desain bilik-bilik toiletnya. Tak seperti standar desain pintu bilik pada umumnya yang memiliki kemiringan sudut 90 derajat terhadap dinding, pintu toilet ini memiliki sudut yang tajam mengarah ke dalam bilik. Engselnya bukan sembarangan engsel. Tak terlihat! Karena memang menyatu dengan bagian dinding dan pintunya. Bagian dinding dan pintunya menerus tanpa celah patahan (yang biasanya akan dipasang engsel fabrikasi). Engsel pintu begitu mekanis, elastis, layaknya lengan kita. Saat pintu kita buka kemudian melepaskannya, daun pintu akan segera menutup otomatis dikarenakan sudut lengkung itu. Bagian pintu dibuat sebersih mungkin, dalam artian tanpa aksen atau peranti lain yang ikut meramaikan permukaan pintu. Lalu bagaimana dengan pegangan pintunya? Sebuah kotak aluminium dibuat dengan sedikit celah pada bagian yang melekat pada bibir pintu. Celah selebar 2cm inilah yang digunakan untuk mengungkit pintu saat akan membukanya.

Di dalam bilik, kloset duduk dipilih yang bentuknya tanpa bagian penyangga bawah tetapi disangga pada bagian belakangnya. Serupa cantilever. Dibuat melayang seperti ini sehingga mudah perawatan. Sekaligus dari segi keindahan, efek cahayanya menjadi lebih sempurna. Perlengkapan toilet lainnya seperti tempat sampah dan tisu gulung dirancang serba tersembunyi.
Pada toilet pria, tersedia perangkat urinoir yang masing-masing sekatnya didesain melengkung. Area wastafel juga didesain dengan konsep yang sama. Wastafel, cermin, dan kotak tissue ditempatkan di celah antara 2 bentuk lengkung.

Hal lain yang cukup menarik adalah permainan cahaya. Lampu berbias putih ini ditempatkan tersembunyi di bagian belakang dari setiap bentuk lengkung dan dinding kayunya. Baik dinding wastafel, sekat urinoir, maupun pintu bilik memang sudah didesain melayang, kurang lebih 10 cm di atas permukaan lantai. Namun efek hidden light lebih menonjolkan karakter bentuk gelombangnya dan membuat kesan melayang lebih dramatis.



Bagi para pengguna toilet, desain toilet yang tak lumrah seperti ini akan merangsang otak untuk berfikir berbeda. Posistifnya, dorongan seperti ini akan membantu menstimulasi otak. Konon jika kedaaan ini sering dilakukan, niscaya akan mencegah penuaan dini pada otak. Semua yang serba monoton dan mudah ditebak tak akan merangsang syaraf-syaraf otak kita. Bayangkan betapa terbantunya otak kita jika banyak desain-desain baru dan inovatif seperti itu bermunculan di sekitar kita. (anis)





Beginilah suasana akhir-akhir ini, semua media sibuk memberitakan segala sesuatu tentang "kerakyatan" (atau kerakyat-rakyatan?). Minggu lalu, sebuah majalah nasional favorit saya sempat menulis juga tentang arsitektur kerakyatan, dalam rangka mengenang Alm. YB Mangunwijaya (Romo Mangun). Tokoh ini memang jempolan (bagi saya) dan merupakan satu-satunya alasan mengapa saya memilih kuliah di jurusan arsitektur. Pemikiran beliau pernah begitu mempengaruhi pola pikir saya. Sebagai fans berat, bolehlah saya menulis sedikit hal tentang beliau.

Kalau menurut majalah yang bersangkutan, beliau adalah anak bangsa yang memperjuangkan rakyat melalui arsitektur (wow.. tim sukses capres pasti senang dengan kalimat itu hehe..). Yang paling terkenal tentulah kampung di tepi Kali Code, Yogyakarta. Waktu itu, karya arsitektur merupakan suatu "mahluk" untuk kaum berada, bahkan kata "arsitektur" mungkin tidak dikenal oleh rakyat kebanyakan. Yang namanya membangun kampung kayaknya tidak dianggap sebagai karya arsitektur. Apresiasi terhadap karya beliau ini memang baru bermunculan setelah mendapat penghargaan internasional Aga Khan. Bayangkan, bantaran kali Code yang kumuh itu dia rancang menjadi lingkungan yang layak, bermaterial sederhana tapi berhasil didesain dengan kreatif dan atraktif. Kampung itu memiliki ruang-ruang publik tempat masyarakat berinteraksi. Bandingkan dengan (misalnya) desain pertokoan mewah yang juga tergolong ruang publik, tapi orang-orang di dalamnya tetap individual dan tidak merakyat (malah ngajarin orang untuk bersaing jadi paling konsumtif).

sumber foto: arsitekturfoto.com
Sebetulnya karya beliau tidak cuma pro rakyat, tapi juga pro lingkungan, coba simak kompleks Sendang Sono. Menurut artikel yang saya baca, sebetulnya Romo Mangun bukan membangun bentukan arsitektur melainkan numpang berarsitektur di alam. Jadi maksudnya, desain beliaulah yang beradaptasi sesuai dengan konteks lingkungan, bukannya malah lingkungan yang harus diubah dan disesuaikan dengan ide desain. Menurut saya, ini merupakan salah satu bentuk penghormatan manusia kepada bumi.

Romo Mangun banyak menulis buku, mulai buku arsitektur hingga sastra. Beliau pakarnya fisika bangunan (untuk merancang bangunan yang ramah lingkungan, tentulah kita harus paham fisika bangunan khususnya untuk iklim tropis). Buku-buku non arsitektur, seperti novel atau esai-esai juga sudah sebagian besar saya baca (kecuali yang tidak dijual di toko buku). Dalam tulisannya, beliau senang berfilsafat, ini yang menjadi daya tariknya. Membaca bukunya tak bisa cepat-cepat karena saya harus memikirkannya. Tapi tidak juga mudah untuk dilupakan karena membekas terlalu dalam. Saya sempat terganggu ketika mendengar ada teman yang berkomentar, "Dia kan berjuang untuk kepentingan agama tertentu". Yah, saya bukan tipe orang yang memandang prestasi seseorang karena pengaruh latar belakang keyakinannya. Jadi, saya justru kasihan banget dengan teman saya itu, pintar tapi pikirannya kok sempit sekali.

Total Tayangan Laman